10 January 2012

panggil aku kakak

Semenjak tahu saya hamil, salah satu hal yang bikin heboh adalah Aglaya akan punya status baru. Dia bukan hanya seorang adik, tapi juga sekaligus akan menjadi kakak. Setiap Aglaya mulai bertingkah manja dan cengeng, pasti dikaitkan dengan statusnya yang baru. Salah satu contohnya: "ih masa udah mau jadi kakak, masih ngerenge' kayak gitu". Dan kalimat seperti itu, seringkali memang berhasil membuat Agla berhenti merenge'.

Aglaya dan Keko memang sudah lama meminta adik kepada saya. Tapi kehamilan saya yang ketiga pun, bukan karena memenuhi keinginan anak-anak, tapi karena kebobolan. hehehe.. Anak-anak memang terlihat senang dengan anak yang lebih kecil dari mereka. Baik itu anak bayi ataupun batita. Mereka tidak sungkan untuk mengajak main bahkan sampai membuat teman mainnya itu tertawa dan betah main sama mereka. Ada tetangga yang punya anak berumur 1 tahun, saya sering lihat anak-anak (terutama Aglaya) main sama anak itu. Jadi ketika hamil anak ketiga ini, saya tidak punya kekhawatiran soal rasa sayang dari Keko dan Agla kepada adiknya.

Namun, beberapa minggu sebelum saya lahiran, tingkah laku Agla agak berbeda. Ia jadi lebih cengeng, manja dan kadang pemarah. Tidak biasanya dia seperti itu. Guru kelasnya pun lapor ke saya bahwa Agla emosinya lagi tidak stabil. Aglaya sendiri mempunyai sifat yang sangat sensitif, tidak mau kalah, ambisius dan gampang ngambek (gampang juga dirayu). Saya sudah takut jika kehadiran adiknya akan membuat sifatnya yang (setahu saya suka anak kecil) akan membuatnya sedih dan cemburu berat.

Begitu Agneta lahir, saya dan babeh selalu memperhatikan gerak-gerik, mimik muka serta sambutan dia kepada si bayi. Dan alhamdulillah, semua ketakutan yang saya rasakan, tidak terbukti. Agla sangat sayang kepada adik Agneta. Tak pernah ia marah kepada saya ataupun babehnya jika kami sedang sibuk dengan Agneta. Bahkan, ia dengan sigap membantu kami mengurus adiknya itu. Ia pun sampai tidak mau sekolah selama seminggu sejak Agneta lahir, hanya karena ingin melihat Agneta mandi pagi sambil ia membantu menyiapkan sabun, shampo, baju ganti, bedak sampai ia yang menyisir rambut tipisnya Agneta. Jika Agneta pipis atau ee', Aglaya juga dengan segera mengambilkan kapas serta popok ganti dan celananya. Betapa membanggakan anak tengah saya itu.

Dan ia punya sikap, mau nya dipanggil Kakak. Tidak mau Uni (panggilan kakak untuk orang Padang) seperti yang diinginkan oleh mama saya. Sehingga, kami semua sekarang harus mulai membiasakan memanggil Aglaya : Kakak. Bukan Adek lagi.. Lucunya, babeh seringkali lupa memanggil dia dengan 'adek', tapi ia tidak pernah marah..paling hanya bilang : 'ah babeh mah lupa melulu...'

So proud of you, kakak Aglaya :)



No comments:

Post a Comment